Kesehatan

Bolehkah Pasien Gagal Ginjal Berpuasa?

Suarasekadau.co.id – JAKARTA – Bolehkan pasien gagal ginjal berpuasa? Ini adalah mengingat kondisi pasien gagal ginjal tahap lanjut sebenarnya tak memungkinkan untuk menjalani puasa.

Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) menganjurkan para pasien gagal ginjal kronis untuk tidaklah melakukan puasa selama bulan Ramadan. Imbauan ini merujuk pada kesepakatan juga panduan dari beberapa ahli.

“Memang belum ada kesepakatan, tapi ada beberapa ahli telah melaporkan melalui beberapa panduan. Jadi pasien-pasien dengan penyakit ginjal tahap lanjut tiada dianjurkan berpuasa Ramadan,” ujar Ketua Umum PERNEFRI Dr.dr. Pringgodigdo Nugroho di jumpa pers Hari Ginjal Sedunia.

Begitu juga dengan para pasien cuci darah. Menurut dr.Pringgo, merek termasuk pada kategori pasien tahap lanjut yang tersebut juga bukan dianjurkan untuk melakukan puasa di tempat bulan Ramadan.

“Bagaimana untuk pasien yang tersebut cuci darah? Sebenarnya ini kategori pasien yang digunakan tahap lanjut juga ya,” ungkapnya.

Meski tiada dianjurkan, dr.Pringgo menyebut, bahwa masih banyak pasien gagal ginjal kronis atau pasien cuci darah yang mana justru mampu tetap memperlihatkan melakukan puasa. Hal yang dimaksud menurutnya kondisional, sesuai dengan kemampuan para pasien.

“Namun sekali lagi memang benar ini menyangkut juga keyakinan ya. Karena kalau dari sisi ahli sejumlah yang digunakan menyampaikan ini tak boleh, namun kenyataannya, pasien-pasien yang tersebut cuci darah ini banyak yang melakukan puasa Ramadhan,” paparnya.

“Jadi ada beberapa laporan, tidak dikarenakan anjuran dari dokter, tapi melawan kemauan pasiennya itu melakukan puasa ini dilaporkan juga ada yang tersebut sanggup menjalaninya dengan penuh, ada yang mampu menjalaninya di tempat luar pada pada waktu cuci darah,” kata beliau lagi.

Meski begitu, ia mengingatkan para pasien gagal ginjal kronis dan juga pasien cuci darah agar melakukan konsultasi untuk dokter apabila memang sebenarnya memaksakan diri ingin berpuasa.

“Yang penting dari studi-studi ini mengamati bahwa tergantung kondisinya. Kondisi ketika memulai puasa Ramadan sebaiknya dikonsultasikan ke dokter,” imbaunya.

“Dan dijalankan pemeriksaan lalu hasil laboratoriumnya, kondisi secara umumnya untuk menjalani puasa Ramadhan, kemungkinan besar ini mampu diadakan ya. Jadi secara umum, memang sebenarnya bukan dianjurkan (puasa),” kata beliau lagi.

Related Articles

Back to top button